
Terjadi penurunan pada pertumbuhan perekonomian Indonesia pada akhir tahun 2008 dianggap suatu hal yang lumrah. Bahkan dengan bangga, Presiden SBY menyebutkan meskipun penurunan sampai 0,2 persen merupakan “usaha yang baik” Indonesia sebagai negara Asia dibandingkan dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat (08 persen) dan Jepang (2,3 persen). Terlebih dalam statement Presiden SBY hanya perkiraan.
Sebagai bangsa yang mempunyai etika ketimuran merasa harusnya malu. Karena, dibanding dnegan perkembangan indeks kemiskinan yang makin naik dan prediksi angkap pengangguran yang makin tinggi juga yakni sampai 8 persen. Seharusnya, sebagai pemimpin yang setidaknya harus menjadi panutan bagi yang dipimpinnya merasa malu dan tidak ingin mengumbar-umbar angka perekonomian yang menurun 0,2 persen itu dari pertumbuhan perekonomian 6,3 persen itu pada 2007 kemarin.
Hal ini juga tidak serta-merta dibilang sebagai usaha dari para ekonom barisan SBY dalam menghadapi krisis global. SBY, sebagai gerbong terdepan seharusnya bisa lebih menjinakkan krisis global itu dengan membuat rakyat senang, tanpa harus “digoyang” dulu oleh demonstrasi. Memang, seterusnya selesai didemo Presiden SBY menurunkan sejumlah “item” BBM, tapi sudah telat.
Mengapa? Karena masyarakat sudah terlanjur cerdas mengantisipasi “produk” politis lainnya, sebelum Presiden SBY menurunkan harga BBM, misalnya. Jelas ini sebuah realita yang harus diterima oleh seluruh kalangan termasuk tim sukses SBY, bahwa ketidak-pekaan ini merupakan langkah mundur dari rezim ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar